Indahnya Dunia

Sang Mentari mengintip dari balik awan
Pelan-pelan bangun dari tidur lelapnya
Walaupun dengan berat hati dan enggan
Sudah menjadi kewajibannya yang tak dapat ditunda

Hari baru telah tiba
Sambut pagi dengan hati gembira
Burung-burung berkicau dengan riangnya
Seakan bernyanyi melantunkan suka cita

Kumbang-kumbang pun berdengung dengan merdunya
Diantara bunga-bunga indah yang merekah
Semerbak harumnya merasuk sukma
Kedamaian dalam pikiran merajalela

Tampak hamparan padang hijau di kejauhan
Dengan angin sejuk semilir perlahan
Kupu-kupu kecil saling berkejaran
Indahnya warna warni berpadu padan

Komunitas air pun tak mau kalah
Ikan-ikan menari dengan lincahnya
Ganggang pun meliuk melambai
mengikuti irama riak-riak air yang gemulai

Oh... Indahnya dunia
Sentuhan maestro Sang Kuasa
Apakah manusia menghargainya?
Dan menghargai keindahannya?

Upi Si Kutu Buku

Upi si Kutu Buku
Raut wajahnya lugu
Setiap disapa hanya bisa tersenyum tersipu-sipu
Dengan senyum kecilnya yang kelihatan malu-malu

Upi si Kutu Buku
Setiap masuk kelas wajahnya penuh dengan peluh
Kedua tangannya membawa setumpuk buku
Walaupun berat tak pernah ia mengeluh

Upi si Kutu Buku
Di kelas tak ada yang mau berteman dengannya
Berusaha keras untuk ramah dan bertegur sapa
Tapi tak ada yang peduli dengan keberadaannya

Upi si Kutu Buku
Walaupun sedih di hati tapi tak pernah diungkapkannya
Dia bertanya-tanya dalam hati kecilnya
Apa yang salah dengan dirinya?

Upi si Kutu Buku
Tak ada yang salah dengan dirimu
Pertemanan yang baik tak perlu kenakan jati diri palsu
Sang Waktu yang akan menjawab, yang kau perlukan hanyalah menunggu