Tak Mau Lagi

Tak mau lagi ku lihat dirimu
Tak mau lagi ingat kenangan indah yang telah berlalu
Biarlah semuanya bergulir bersama Sang Waktu
Lenyap, sirna dan berlalu...

Tak ada lagi yang perlu dibicarakan
Bertemu denganmu saja aku enggan
Pupus sudah impian dan harapan
Percuma saja harus bertahan

Pergi saja kau dari hidupku
Bawa semua beban yang menggantung di pundakmu
Tak ada yang perlu disesali segala yang terjadi
Semuanya takkan pernah sama lagi

Hey Gadis

Hey Gadis,
Parasmu cantik lagi menawan
Rambutmu mengkilat indah bak sinar rembulan
Sekedar kuingin menyapa dan berkenalan
Kadang timbul perasaan malu dan segan

Hey Gadis,
Tiap sore kau lewati depan rumahku
Dengan sepeda mini merah jambu
Ketika ku bulatkan tekad 'tuk hampirimu
Seringkali ku rasa grogi bercampur ragu

Hey Gadis,
Semoga hari ini niatku kesampaian
Dan tidak lagi dirundung penasaran
Berkenalan denganmu hai wanita pujaan
Yang sudah lama kunantikan

Perselingkuhan.... Salah Siapa?

Aku salah kaprah
Ternyata perkiraanku meleset semua
Hasrat cinta telah membuatku buta
Sampai berpikir pun tak pakai logika

Hatimu bercabang mendua
Kau khianati diriku dengan dusta
Sikap ucapanmu penuh tipu daya
Demi perselingkuhan semata

Ketika perbuatan busukmu terbongkar sudah
Kau masih pura-pura tak berdosa
Mati-matian kau tak mengakuinya
Pada akhirnya semua tercium juga

Perselingkuhan....
Siapa yang harus disalahkan
Memang bukan jodoh suratan tangan
Atau takdir yang memang tak mengijinkan?

Sekotak Cokelat

Sekotak cokelat kau berikan
Di hari ulang tahunku sebagai kejutan
Senang hatiku tak dapat diungkapkan
Oh betapa bahagianya kurasakan

Kunikmati hadiah cokelat pemberianmu
Setiap gigitannya terbayang wajahmu
Rasa manisnya melekat dalam ingatan
Masa-masa bahagia yang sulit dilupakan

Diatas kotak cokelat ku temukan secarik kertas
Ku baca isi pesan dan hatiku mulai panas
Bak pengecut dasar setan alas
Kekasihku minta putus tanpa alasan jelas

Dengan kesal kubuang hadiahmu ke tempat sampah
Setiap kenangan bersamamu tak lagi kurasa berharga
Ternyata kau cuma cowo murahan
Seperti novel roman picisan

Duka Ibu Pertiwi ku

Hujan deras membasahi bumi
Angin bertiup tiada henti
Pohon-pohon bergoyang ke kanan ke kiri
Suara petir menggelegar seolah tak peduli

Bencana alam silih berganti
Hanya sekejap mata habis tersapu bersih
Manusia hanya bisa meratap dan menangisi
Bertanya dalam hati salah siapakah semua ini?

Wahai Ibu Pertiwi,
Begitu murka kah melihat semua yang terjadi
Alam yang semula indah, permai dan asri
Kini semuanya rusak karena rasa tamak yang tak henti

Apakah ini hanya teguran
Atau kah sekedar cobaan
Terlalu banyak dosa dan kesalahan
Pantaskah semua ini dimaafkan?

Si Penggembala

Sore menjelang malam hari
Angin bertiup perlahan menyejukkan hati
Langit biru tampak keemasan berhiaskan cahaya mentari
Tampak burung dan kumbang terbang kian kemari

Tiba waktunya si penggembala pulang
Menggiring domba-dombanya kembali ke kandang
Melepas lelah dibawah pohon besar yang rindang
Si penggembala bersenandung sambil berdendang

Sambil memandang indahnya cakrawala
Tak ingin beringsut untuk beberapa masa
Menikmati indahnya damai alam
Tapi waktu telah berganti malam

Si penggembala berjalan pulang
Susuri jalan lewati padang rumput membentang
Esok hari harus kembali bekerja
Untuk kehidupan demi keluarga tercinta

Robi Sang Jagoan Kandang

Robi namanya
Sekarang duduk di kelas lima
Badannya gemuk perutnya bundar
Pandai membual suka omong besar

Setiap jam istirahat diantara kerumunan
Berusaha untuk menjadi pusat perhatian
Bercerita yang hebat-hebat tentang dirinya
Teman-teman pun berdecak kagum dibuatnya

Suatu hari setelah jam sekolah usai
Diantara hingar bingar anak sekolah yang ramai
Robi pulang berjalan kaki dengan santai
Ternyata diam-diam ada yang mengintai

Grrrrr.... suaranya terdengar garang
Robi pun menengok kebelakang
Seekor anjing herder memandangnya dengan berang
Tanpa pikir panjang Robi pun langsung hengkang

Dengan wajah pucat pasi ketakutan
Badannya yang besar sudah tampak kelelahan
Akhirnya ditolonglah Robi oleh seorang teman
Yang ternyata murid kelas tiga anak perempuan

Teman-teman tersenyum dan berbisik perlahan
Ternyata cerita Robi hanya bualan
Usai sudah kisah hebat sang Pahlawan terpandang
Tahunya si Robi cuma jagoan kandang