Wajahnya terkulai lemah kelelahan
tampak nelangsa terlalu banyak tekanan
tak peduli bagaimana kejamnya perlakuan dunia
namun tak sedikitpun keluh kesah terlontar dari bibirnya
Mengais sampah dibawah teriknya panas matahari
keringatnya mengalir deras membasahi dahi
langkahnya berat dan tertatih-tatih
pikirannya jauh melayang demi sesuap nasi
Rona kebahagiaan jauh dari angannya
masa depan yang lebih baik seakan harapan yang sia-sia
derita dan duka tak pernah lepas mengikutinya
hanya kepada Sang Khalik tempatnya berpasrah
Jeritan hati si pengais sampah
bukan rumah gedongan pintanya
cukup makan saja pun tak mengapa
akankah terlalu sulit untuk mewujudkannya
Denting Piano Tua
Senandung piano tua terdengar lemah
denting-dentingnya sayu dan tak bergairah
nada kesepian bunyinya
terbawa semilir angin, terhempas ke segala arah
Tak lagi terpapar suaranya yang merdu dan indah
gamang dan tak menentu simfoninya
nada keraguan bunyinya
tersendat-sendat dalam pikiran yang mendua
Denting piano tua semakin tak terdengar
sayup-sayup melodinya semakin pudar
nada putus asa tanpa harapan
lenyap bersama angin dalam pekatnya kegelapan
denting-dentingnya sayu dan tak bergairah
nada kesepian bunyinya
terbawa semilir angin, terhempas ke segala arah
Tak lagi terpapar suaranya yang merdu dan indah
gamang dan tak menentu simfoninya
nada keraguan bunyinya
tersendat-sendat dalam pikiran yang mendua
Denting piano tua semakin tak terdengar
sayup-sayup melodinya semakin pudar
nada putus asa tanpa harapan
lenyap bersama angin dalam pekatnya kegelapan
Langganan:
Postingan (Atom)